Saturday, August 13, 2011

Bangganya Orang Tua

Suatu ketika seorang Adik protes kepada Ibunya, karena sang Ibu dirasanya berlebihan dalam menceritakan tentang keberhasilan dirinya. Yaa..maksud sang Ibu sih sekedar bangga..catat bangga bukan menyombongkan dirinya, ikutan seneng atas kesuksesan yang sudah diraih si Adik. Seneng bahwa anaknya bisa mapan, seneng bahwa anaknya berprestasi.
Tapi kok malah si Adik itu menggak kesenengan Sang Ibu di tengah jalan.

Inget Adik, ibu itu ngga' akan minta banyak2 dari Sampeyan... ngga' akan ngasih invoice dari apa yang telah Beliau kerjakan selama ini, Anda mulai dari dalem perut, digadang-gadang, dieman-eman, kalau ada baju bolong direla-relain dijahitin kalau belum ada modal untuk beli yang baru...dan segala tetek bengek lainnya yang kalau diitung bisa bikin bengek juga. Lha kok wayahnya ikutan seneng dari kesuksesan Anda aja ngga' boleh...eh bukan ngga' boleh tapi tepatnya dilarang.
Ibu menceritakan kepada koleganya itu kan ya bukan berarti menyombongkan diri..."ini anakku sudah jadi orang" (lha dulu emangnya monyet?)
"ini anakku udah pinter begini..begitu"..itu kan sekedar pelampiasan dari kebanggaannya dari berhasilnya mendidik dan merawat Anda to Dik.
Tenan ini Dik, lha wong Saya yang bapak-bapak gini aja suenengnya minta ampun kalo liat Anak saya bisa apaa gitu, bisa bikin jengkel bapaknya maksudnya..hehe.

Saya dulupun juga pernah ngalami gitu kok Dik, kalau Bapak Saya (rahimahullah) menceritakan tentang Saya kepada teman Beliau (tentunya yang baik-baik saja) Saya juga ngga begitu suka, kenapa sih pake diworo-worokan. Biasa aja kaleee, begitu pikir Saya.
Tapi ya begitulah namanya orang tua, bangga terhadap raihan anaknya adalah salah satu kebahagiaannya.

Kembola kembali Saya ingatkan kepada saya sendiri, harta yang tumpuk undung ngga' akan membalas welas asih nya orang tua kepada kita, yang dituntut dari Kita sebagai anak kepada orang tua adalah senantiasa berbuat baik, patuh dan taat dalam kebaikan, jangan sampai menyakiti hatinya.
Kalau nda' sempet ketemu setiap saat, ya coba untuk se intens mungkin menjaga komunikasi, lwat telpun lah, chatting lah..dsb. Apalagi kalau sudah di alam kubur, jangan sampai kiriman doanya nunggu hari-hari khusus, tempat khusus.
Panjatkan doa kepada kedua orang tua, di kebanyakan sujud kita, insyaAlloh itu akan bermanfaat.

Labels:

Sunday, July 25, 2010

sami'na wa atho'na

Mendengar dan membaca berita, semakin hari semakin membuat hati jadi tambah gundah gulana...
kebebasan berpendapat jadi alih-alih untuk melegalkan upaya menghujat, kritik konstruktif dijadikan nama lain dari hal yang esensi ekstrimnya adalah pendongkelan dan pembangkangan...
intinya adalah ketidakpuasan yang di-jahr-kan

Hmm...semakin bimbang saja dengan kondisi yang terjadi di negeriku

Menasihati kepada diri untuk tak usah ikutan terjun dalam suatu perkara yang Saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi, ikut-ikutan berkomentar hanyalah menguak bahwa Saya bener-bener tak mengerti

Ketidakpuasan ditambah dengan slogan kebebasan berpendapat bukanlah paket yang tepat untuk memajukan keadaan, yang ada hanya membuat stagnan bahkan mundur ke belakang.

Yang pasti, dari dangkalnya pengetahuan yang Saya miliki, ada beberapa hal yang bisa dilakukan,
1. Bersabar dengan apa yang terjadi
2. Jika memang mampu untuk memberi nasihat dan solusi...(ingat nasihat dan solusi) maka salurkan dengan cara yang baik dan benar..melalui koridor yang sudah diberikan, jika memang sudah dilakukan maka kembali lagi ke point no 1.

Kewajiban rakyat biasa adalah taat dan patuh dalam kebaikan,

Seperti termaktub dalam 2 hadith dibawah ini
Dari Kitab Shahih muslim, hadith no 3419
"...dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam perkara yang disukai dan dibenci dan biarpun merugikan kepentinganmu."

dan hadith no 3423
"..dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Wajib setiap orang untuk mendengar dan taat, baik terhadap sesuatu yang dia suka atau benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat."

sementara urusan pemimpin yang tidak amanat akan dikembalikan kepada Allah, tak perlu kita untuk menghakiminya apalagi dibeberkan kepada semua manusia.

merujuk pada Kitab Shahih Bukhari, hadith no 6617 menyatakan
"....Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak akan mendapat bau surga."

Wallahua'lam

Labels: ,

Tuesday, April 06, 2010

Ikhtiar

Tak usah kita terburu-buru untuk mendapatkan hasil yang dituju.
Yang dibebankan oleh Rabb kepada kita adalah berusaha dengan baik dan cara yang baik.
Usaha ini saja sudah cukup membebani pikiran, mangkanya tak perlulah untuk menambah lagi dengan beban yang lain.

Ikhtiar menjadi sebab tercapainya tujuan, dan itu harus tetap dilakukan.
Masalah berhasil atau tidak, selama kita berikhtiar dalam track dan corridor yang benar, maka itu prerogatif yang punya hidup dan kehidupan.

Parameter berhasil sangat beragam dan kita tidak bisa mengontrol satu per satu,dan dari sekian banyak parameter itu, yang ultimatenya adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh Alloh 'Azza wa jalla.

Jadi tak peduli apa yang kita hadapi hari ini, yang kita dapati hari ini... janganlah sampai melunturkan semangat untuk berbuat baik dan baik dan baik...
Kurang puas dengan apa yang ada pada diri adalah wajar. Yang menjadi tidak wajar adalah ketika ketidakpuasan itu menjadikan kita jadi orang tak wajar... maksudnya? ya begitu kira-kira.
Jadi kalau masih berambisi dengan yang lebih tinggi, (banyak atau sedikit) ya monggo untuk diupayakan menggapainya, karena ya memang harus diupayakan.
Tapi jangan lupa, hidup yang sedang dihadapi jangan lantas ditelantarkan.

Setiap sen, setiap harga dari rejeki telah ditetapkan kepada masing-masing manusia.
Dan tak akan ditahan apa yang akan harusnya diberikan, dan tak akan diberi apa yang ditahan.
Jika memang moulding dunianya miskin, walaupun dapet uang semilyar...ya ada saja caranya satu milyar itu lenyap tak berbentuk.
Namn begitu jangan sampai kita mau moulding akhirat yang buruk. Mangkanya apapun moulding dunia yang ada pada kita, selayaknya kita membuat diri kita semangat menyifati diri dengan moulding akhirat yang baik.
Mau jadi dokter, insinyur, buruh, pedagang..itu hanyalah pakaian sementara to.
yang hakiki adalah jika jadi dokter..ya jadilah dokter yang kenal dan mengamalkan tauhid, ketika jadi buruh pun buruh yang tahu dan beramal dengan baik.
InsyaAlloh jika dunia sudah diluar kepala kita, maka dia tak kan membebani kita, seburuk apa anggapan manusia tentang hidup kita.

Labels:

Thursday, February 11, 2010

Antara Gerhana dan Casino

Terkadang dunia menawarkan sesuatu yang sangat indah, kadang juga sangat tak ramah.
Ada sebagian manusia yang hidup dengan segala kelebihannya, ada juga sejumlah manusia yang hidup dengan kekurangannya.

Lebih dan kurang hanyalah sekedar atribut, jangan sampai hal yang kecil ini menutupi megahnya masa yang lebih kekal kelak, jangan sampai layaknya bulan yang bisa menutupi gagahnya sinar sang surya di kala gerhana.

hijrah...hijrah....hijrah sebelum gong casino itu ditabuh

Labels: ,

Friday, July 31, 2009

mawree

Let's get numb
Ndableg
Sak karepmu
Sak polah-polahmu
Tapi...Harus tetep berprinsip Bebas,sopan,bertanggung jawab
Yee haw

Labels:

Saturday, July 04, 2009

Mengurus

Mereka berlomba-lomba saling klaim siapa yang paling becus mengurus. Apa nda' dilihat kalau secara fisik ga ada yang bisa dikatakan mengurus. Saya yang terang-terang berhasil mengurus aja diam saja, nda banyak cuap-cuap.
Satu buktinya, dari jaman sma sampai sekarang berat badan ya hanya sekian-sekian aja (dalam level bawah), ini indikasi nyata saya berhasil mengurus bukan menggemuk.
Salam mbambung

Labels:

Wednesday, June 17, 2009

Kampanye

Saya ini ngga' ngerti tentang licin dan berbelitnya urusan politik, memang ngga'mau mengerti dan ngga' usahlah untuk mengerti.
Jadi hanya pengin sedikit menyentil saja kelakuan oknum capres-cawapres dalam berkampanye.
Ya kalau dipikir-pikir lucu, nda' lucu juga, aneh, ngga' aneh, wagu tur wagu banget.
sekali lagi...ini menurut saya yang awamnya awam soal politik.

Pertama, mafhum banget kalau yang namanya negeri kita ini masih jauh dikatakan sebagai maju, dari kemarin-kemarin juga belum maju... lha kalo ada yang lantas kok bisa-bisanya membanggakan hasil-hasil..lha njur hasil mana yang mau dibanggakan.
mbok yao ngelus dada, trenyuh atas kondisi yang ada. Visi ke depannya apa gitu lho.

kedua, lanjutan tadi yang pertama..wong kemajuan aja belum signifikan (sekali lagi..menurut saya!!!) kok ya malah rebutan klaim, gontok-gonrokan ngacung sak dhuwur-dhuwurnya mengaku-aku bahwa keberhasilan (?) itu milik saya. lha njuk keberhasilan mana to yo yang mau diklaim???
ya seumpama ada keberhasilan...ya pastinya itu ya milik si boss yang lagi kuasa to ya. walopun yang melaksanken bawahan, pembantu ataupun wakil, yang namanya hasil itu ya tanggung jawab si boss, jangan njuk kalau gagal ditimpakan si boss, kalo berhasil jadi milik si pelaksana ataupun sebaliknya.
Aturan mainnya, bagaimanapun juga..ya si boss itu yang berhak untuk menyandangnya.
Jangan bicara tentang 'akan tetapi', bicara aja realita. Apa karyawan yang sukses cost reduction di kumpeni akan tunjuk2 tangan di depan direksi, rapat pemegang saham?? ya umumnya yang pemegang kebijakan yang dapet nama duluan. Udah deh nda' usah banyak ngeyel..ini pake jurus 'pokoknya'

Yang ketiga, jarene kampanye, ya sewajarnya hendaknya menyampaikan visi-misi...lha kok malah diisi dengan kampanye negatif saling menjatuhkan...'jangan pilih dia, dia itu begini..dia itu begitu', hallahhh mbokdhe..mbokdhe. Lha ini malah berghibah-ghibah di muka umum, menjatuhkan nama orang lain, sementara namanya sendiri ya pancet ngga' naik-naik.

Kemudian keempat..keempat.

Hallah kok ya saya bisa jadi semangat koyo orang orasi begini, pake cincing-cincing segala, sembari naik meja.
Memang politik itu pol banget licin dan trik nya.
Udah deh nda' usah ikutan.

Labels:

Tuesday, June 16, 2009

Kurva sinusoidal

Naik turun..naik tinggi...turun drastis.
Maunya malu, tapi malu juga ngga' bakalan membawa perbaikan yang signifikan, namun kalau ndableg tambah memalukan.

Hmm..
segeralah beranjak dan bergegas, jatuh sekali dua bukan aib yang pantas untuk dicela.
yang pasti jangan sampai terhempas karena pijakan yang tak kokoh.

Memula hal baik bukan mengawali dengan hal yang besar, yang kecil namun berterusan dan tetap bahkan bertambah akan lebih baik dari sekedar kejadian sesaat yang kolosal.

Monggo..monggo...

Labels:

Monday, June 15, 2009

Tentang belajar

Belajarlah,sehingga kau bisa membedakan terhadap dua hal yang berlawanan.
Belajarlah akan hakikat kegelapan sehingga kau tak lagi terperangkap di dalamnya.
Belajarlah akan nikmatnya terang sehingga kau senantiasa mencari indahnya.
Belajarlah, dan pandai-pandailah untuk memfilter segala apa yang kau dapat, karena tidak semua yang ada itu baik.
Polusi sudah semakin akut, bukan mustahil jika kau akan tergilas jika kau berjalan tanpa pegangan yang tetap.
Kebodohan hanya akan membuat kepekaanmu menjadi mati suri.
Kebodohan hanya akan menafikkan kewaspadaan akan bahaya yang siap menerkam.
Bukan...itu bukan ketakutan,namun dengan ilmumu kau akan punya keteguhan dan terlepas dari keterapungan di lautan syubhat.

Labels:

Sehebat apapun usahamu untuk membalas kebaikan dan budi orang tua, niscaya tak kan mampu upaya itu untuk membayarnya.
Yang bisa kau lakukan adalah meneruskannya, berikan kebaikan dan budi yang semisalnya atau yang lebih baik kepada anak-anak keturunanmu kelak.
Segunung emas yang kau punya tak kan mampu untuk membeli meski setetes ASI kepada ibumu, yang kelak kau mampu lakukan adalah untuk memberikan setetes ASImu kepada buah hatimu.

Pun orang tua, tak kan banyak materi yang diharapkan dari sang anak.
Hanya kasihsayangmu lah yang senantiasa kami harapkan, hanya ketaatan dan patuhmu yang kami nantikan. Hanya doa kebaikan darimu yang kami asakan.

Nak, bacalah ini jika kelak kau telah mengerti

Labels:

Thursday, December 18, 2008

Nyleneh

Kalau kita udah disediain aturan, kenapa kita musti pusing bikin aturan?
Retorisme simple yang kadang masih susah dipraktekkan bagi orang-orang yang keras hati, sok pinter, waton suloyo, yang ujung-ujungnya hanya pengin menange dhewek.

Ya, itulah yang akhirnya memunculkan fenomena keganjilan aturan-aturan versi manusia yang dipenuhi berbagai macam kontradiksi, tumpang tindih satu sama lain, yang sangat kental dengan hawa “ngono yo ngono ning ojo ngono”.

Mau tahu bukti shahih keganjilan-keganjilan itu?

1. Minuman beralkohol, hanya boleh diminum bagi yang sudah dewasa, itupun kalau anda boleh minum, asal jangan sampai mabuk

2. HLSITI (Hubungan Layaknya Suami-Istri Tanpa Ikatan), boleh saja, dengan syarat:
- tidak dengan suami/istri orang
- ngga’ ketahuan sama pasangan resmi
- syah jika dilakukan dengan mereka yang berprofesi sebagai pelayan HLSSTI
- dllymbl (danlainlainyangmasihbanyaklagi)

3. Hubungan sesama jenis, masih jadi kontroversi, tapi kalau mau meresmikannya di Negara yang melegalkan hubungan itu, maka syah-syah saja.

4. Berpakaian minim, boleh asal tidak mengundang hal-hal yang tidak diinginkan bagi si pemakai. Adalagi yang nyleneh, berpakain minim boleh asal sopan…(heh?).

5. Merokok, boleh asal ga’ bikin orang plepek-plepek karena asapnya.

6. Berdemokrasi, silakan saja jadi presiden, gubernur, bupati, kepala desa.. syaratnya jika punya banyak pendukung, ngga’ peduli mau preman, mau penjahat aktif, mau mantan ustadz, apapun profesinya boleh masuk panggung politik asal punya pendukung.

7. Muamalah ghoror/samar/tanpa objek dan subjek yang jelas/penuh unsure riba boleh-boleh saja, asal suka sama suka.

Dan masih banyak lagi jika ingin dikupas satu per satu

Padahal ni ya, wis cetho ngeglo welo welo ketoro moto, bahwa semua itu ngga’ banyak manfaat yang bisa diambil, madharat jelas kentara, eeevvvrrybody knows, dan pastinya sadar sesadar-sadarnya kalau madharat itu lebih banyak.

Contoh-contoh keganjilan itu tak lebih dari sekedar menimbulkan banyak sekali perdebatan panjang, diskusi yang melelahkan antara iya dan tidaknya, boleh-ngga’nya, bagaimana menjelaskan batasan-batasan perkecualian yang bisa ditetapkan.
Isi kepala manusia yang beraneka ragam diadu jadi satu, dan ini bakalan susah banget, dan pada akhirnya hasil yang muncul ngga’ bisa diterima 100%, walaupun dengan dipaksa.

Nah sekarang bandingkan sama aturan-aturan yang SAYA YAKINI kebenarannya dengan jelas, padat dan singkat

1. Minuman beralkohol
2. HLSITI
3. Hubungan yang jenisnya sama
4. Pakain minim
5. Merokok
6. Demokrasi
7. Muamalah ghoror

Jawabannya satu: Haram artinya dilarang.
Kalau ada catatan dharurat itu perlu penjelasan lagi.
Kalau ada yang menganggap masih diperselisihkan hukumnya, itu urusan lain, tegantung bagaimana meyakini asas-asanya, makanya ditulis gedhe-gedhe SAYA YAKINI.
Kalau ada yang berpendapat "lho itu kan makruh", maka dijawab, "lha sampeyan itu melakukan hal yang dibenci manusia saja mikir berulang-ulang, bareng menjalani yang dibenci Alloh kok entheng ngomong.. ah ini kan makruh, aiyak ... opo ya ilok kalo kaya' gitu, ini kalo mau fair-fairan"

Tapi ya beginilah, kondisi yang ada sekarang ini masih belum mengakomodir untuk melaksanakan aturan yang sudah digariskan oleh sang Pencipta manusia, yang memang lebih tahu dari manusia itu sendiri
Hopo tumon, kalo ada mesin yang dibuat manusia, lha kok ternyata si mesin itu dengan arogannya sok bikin manual tentang mesin itu sendiri, ini andaikan si mesin itu mampu. Apa nda’ anyel si pembuat mesin itu merasa dilangkahi wewenangnya?

Ironisnya kalau ada yang berpendapat untuk melaksanakan aturanNya dengan tegas, langsung diserbu dengan tudingan fundamentalis, garis keraris, sok suci-is….. and at in the of the day malahan ditambahi irhabis. Wadaw… ngga’ kuku deh.

Ngono yo ngono ning ojo ngono lah.

Labels:

Thursday, November 13, 2008

Express or expose?

Menarik sekali ucapan ringan dari rekan di jalan si Keith pagi ini, menyentil alasan segelintir orang yang memelintir kondisi, dari persentuhan norma sosial budaya menjadi nilai-nilai seni dan pribadi.

Ini juga yang pantas untuk dialamatkan pada kondisi trend sekarang ini. Sebagian orang berpendapat "membuka diri" (=buka aurat) adalah ekspresi kebebasan pengungkapan jati diri atau bagi pekerja seni ini adalah menjadi bagian dari hasil karya seni itu sendiri. Jalan-jalan di khalayak umum tanpa selembar kain, bagi orang awam dianggap gila, tapi bagi pekerja seni dianggap sebagai karya instalasi mereka. Melukis obyek tanpa cover (tentunya obyek manusia) menjadi nilai seni dengan cita rasa tinggi. Tapi bagi pekerja pornografi menjadi hal yang tabu untuk dinikmati.

Bagi yang sekolah di perguruan tinggi, yang tak ada dress code khusus yang mengatur, masalah expressing ini juga menjadi pendalihan yang dianggap pantas digunakan."Yang penting kan nilainya, bukan penampilan... mau acak adul asal nilai A kan bukan masalah, ini juga bagian dari ekspresi kebebasan berpikir dan bertindak toh", begitu alasan sebagian mereka.

Apa itu hakikatnya, maka mari tanya pada hati nurani dan liat kembali aturan shahih yang telah teruji.
So express or expose?? yah beda-beda tipisss saja.

Labels:

Wednesday, November 05, 2008

Jujur dan Adil

Apakah kita menghindari maksiat hanya karena masih banyak orang yang selalu mengawasi?
Apakah kita tidak korupsi karena tak ada uang yang hendak ditilep?
Apakah kita tidak sewenang-wenang karena belum punya bawahan yang bisa ditekan?
Apakah kita tidak meng-ghibah hanya karena tak ada bahan untuk dibicarakan?
Apakah kita tidak berzina karena belum ada partner untuk diajak kepadanya?
Apakah kita tidak menyambangi mbah dukun hanya karena kita merasa belum perlu petunjuknya?
Apakah kita tidak minta pengasihan hanya karena kita belum berambisi untuk kaya?
Apakah kita berdalih atas nama ummat hanya sekedar mencari sesuap nasi dan segenggam berlian?

Sudahkah kita jujur kepada diri sendiri dan kepada Sang Khalik, yang Maha Mampu untuk membuat makar lebih dahsyat ketika kita berupaya membuat makar kepadaNya, yang akan membalas pada yang lebih pedih ketika kita mempermainkan segala sesuatu dan menstempel dengan label Nya.

Ittaqillah wastaqim

Labels:

Wednesday, October 22, 2008

Heart Impulse

Selalu berulang-ulang, dan tidak pernah menjadi bosan, senantiasa mengingatkan diri sendiri untuk selalu istiqamah dalam memaintain hati, mengolah rasa serta mengimplementasikan dalam amalan jasmaniyah.

Dari syarah arba’in nawawi, dalam hadith pertama yang membahas tentang niat saya dapatkan suatu nilai yang tak terukur. Diterangkan didalamnya bagaimana berdiam dirinya seseorang namun pada ketika itu dalam hatinya selalu mengolah rasa maka dampaknya adalah suatu penerimaan luar biasa dan output yang dihasilkan pun bisa berlipat ganda.

Dicontohkan, bagaimana seorang yang sedang teraniaya oleh perbuatan orang lain, lantas si teraniaya ini hanya berdiam diri saja, tak ada perlawanan serta upaya untuk membalas, akan tetapi hatinya senantiasa berkata bahwa dirinya sedang mendapat ujian, sehingga ia mengetahui bahwa konsekuensi syar’i dari orang yang mendapat ujian adalah bersabar kepada Alloh.

Kemudian hatinya pun kembali berbicara, Ia berpikir bisa jadi apa yang didapatnya kali ini adalah balasan karena dia juga telah melakukan yang sama, atau sebagai balasan dari apa yang telah ia perbuat dari suatu amalan yang tidak diridloi Alloh, maka dia pun kembali berharap bahwa cobaan yang datang padanya ketika itu adalah suatu penyegeraan balasan dan pemutihan dari pembalasan kelak di akhirat, dirinya berharap inilah jalan yang harus ia lalui untuk mendapatkan ampunan dari Alloh.

Dan efek selanjutnya karena ia merasa lantaran perbuatan dhalim itu maka dia berharap kebaikan, maka kembali dia berazzam jikalau nanti ada kesempatan maka ia ingin berbuat kebaikan kepada si penganiaya itu, karena hakikat yang diambil oleh si teraniaya dari penganiayaan itu adalah hanya kebaikan adanya.

Hmm.. betapa damainya hidup jika ‘ilmu telah tertanam dan istiqamah telah menghujam. Kesusahan apa lagi yang bisa membuat gundah

Labels:

Friday, September 26, 2008

Esensi

Ada satu pengibaratan tentang penyikapan tentang makna kesejatian hidup yang sangat menarik bagi saya, yaitu pada suatu ilustrasi yang mengetengahkan ketika seorang Pak Dosen menjamu mahasiswa-mahasiswanya yang datang kepada dia.

Ketika pada waktunnya sang Bapak menyajikan satu teko yang berisi kopi dan melengkapinya dengan berbagai macam jenis gelas yang banyaknya sesuai dengan jumlah murid-muridnya, gelas yang dibawanya tak ada yang sama jenisnya, ada gelas plastik, ada cangkir tembikar, ada cawan anggur, ada gelas biasa, dan jenis-jenis gelas yang lain. Maka ketika dipersilakan untuk "help your self" para mahasiswanya langsung menyerbu gelas-gelas itu, dengan masing-masing preferensi gelas yang ia incar dan kemudian menuangkan kopi ke dalamnya dan selanjutnya meminumnya. Sebagian dari mereka tampak berbangga dengan cangkir porselen yang mewah, sementara yang lain cuma indap-indip karena hanya mendapat jatah cangkir plastik yang sekali pakai langsung dibuang.

Kemudian pak Dosen pun memberi wejangan dan pemaknaan atas apa yang sedang berlangsung."Wahai para mahasiswaku, sesungguhnya apa yang sedang terjadi ini adalah suatu gambaran tentang realita kehidupan kita, ketika kalian aku berikan satu jenis kopi dan aku berikan berbagai macam pilihan pada wadahnya, maka sebagian kalian berbangga pada pilihan wadah tersebut, dan sebagian lain merasa tak dihormati karena mendapat wadah yang tak layak. Tapi bukankah kenikmatan dari kopi yang kalian minum adalah sama?"

"Maka ibaratkanlah bahwa kopi adalah esensi hidup, dan wadah-wadah itu sebagai sarana, janganlah tertipu pada kesemuan wadah karena masing-masing kalian juga menikmati isi yang sama".

didengar dari 93.8FM Fresh!!

Labels:

Wednesday, September 10, 2008

Mbambung

Beberapa conversation dan quotation mbambung,

Situasi 1
A: Ati-ati mas ojo cerak2 motorku, knalpote isih panas
B: It’s ok, tenang ae, aku payungan kok…
(percapkapan dengan senior waktu di kost SMA)

Situasi 2
A: Piye dab, wis sido mbok tembung nyang bapake?
B: Wis, ndik wingi…
A: weh..weh… terus piye? Bapake setuju kan?
B: Yup setuju, Lha Aku dikon ngunduh dewe mengko sore…mumpung peleme wis mateng2

Situasi 3
sering sekali, kalau kita bertemu seorang yang baru kenal, kemudian setelah bosa sana-basi sini eh lha ternyata si orang baru ini ada hubungan dengan sesuatu, baik itu sekolah-tempat asal-tempat kerja- atau yang lainnya, dan kok ternyata di sesuatu tersebut ada si anu yang kita kenal, lalu buru-buru sok heboh kita tanyakan si orang baru…’anda kenal si anu ngga??’
Seperti situasi ini:
A: sekolah nya dimana mbak?
B: Institut Teknologi Mbandung..
A: wah kenal sama Bambang dong? Temen sekolah saya, anaknya rajin dan pinter pol
B: ya iyalah dia kan sejurusan sama saya..
A: kalo Budi? dia temen sedesa sama saya, anaknya aktif banget
B: o iya. dia itu temen seorganisasi..
C datang-datang nimbrung
C: tau sama Basuki?
B: Basuki???? Basuki siapa ya?
C: Iya Basuki, masak ngga’ tau?
B: yang mana ya?
C: hallah itu lho Basuki yang srimulat….

Situasi 4:
Seorang nenek sedang ngobrol dengan si Mbak temen si Cucu dalam satu kesempatan
Si Cucu: Mbak, rasah diladeni gunemane mbahku, lha wong mbahku kuwi rodho budek kok
Si Mbak: heh… piye to kowe ki, neng kene ki ra ono gudek…

Situasi 5:
A: Sudahlah, jangan dipikirkan berlarut-larut, yang hilang ditelan bumi sudah tak lagi bisa kembali…. Ikhlaskan saja.. kan ikhlas itu separuh dari agama…

(diambil dari koment di salah satu web)

Situasi 6:
Pak Dosen yang sedang mengawal mahasiswanya dalam rangka kunjungan ke salah satu industri, didekati oleh panitia penyambut, dengan akrab pak panitia menyapa:
"Pagi pak, dengan siapa Pak?" maksud hati ingin mengetahui nama si Pak Dosen, kemudian dengan gagah menjawab, "Oh..saya, Saya sendirian saja Pak"

Labels:

KB

Di negeri yang seuprit ini, yang mayoritas manusianya terkendalikan oleh orientasi materi, problema tentang perkembangbiakkan menjadi polemik dalam beberapa dekade ini. Level keinginan generasi kedua untuk mempunyai keturunan sangat-sangatlah minim, pertimbangan tentang kestabilan finansial, kesiapan fisik dan mental menjadi alasan utama yang menjadikan mereka baranggapan bahwa punya anak itu bagaikan suatu project besar yang bakalan menguras perhatian, pikiran dan tentu saja uang.

Pemerintahnya kembola kembali mengiming-imingi warganya dengan berbagai privillage bagi mereka yang bersedia mau punya anak, mulai dari tunjang sana-tunjang sini, potongan sana-potongan sini, bonus ini-bonus itu, tapi teuteup saja keinginan itu tak lantas menggelora. Solusi untuk meng-cover kebutuhan tenaga kerja, pemerintah bisa melakukan hiring bagi foreigner2 untuk masuk ke pangsa pasar tenaga kerja disini, dan untuk menyeimbangkan piramida penduduk aksi-aksi naturalisasi digencarkan.Hampir semua area kena dampak naturalisasi, mulai dari tanah naturalisasi dari indonesia sampai atlit-atlit pun bolehnya meng-import dari negeri tetangganya. Pokoke terima jadi saja, asal bisa dibayar dengan uang.

Walaupun begitu, orang-orang pribumi yang memang asli nenek moyangnya sudah disini sejak kemerdekaannya, nampaknya santai-santai saja menyikapi ini. Toh mereka tetep diistimewakan dibanding para pendatang, status mereka masih ada lebihannya bisa dikatakan begitu tinimbang orang luar.

Suatu ketika, seorang Tokei yang saya kenal pernah ngomong, "buat saya anak satu biji itu saja udah terlalu banyak". Lha saya hanya spechless dengan mendenger yang demikian itu.Ya begitulah realita yang ada, mungkin suara itu mewakili dari sekian banyak pemikiran yang menggelayuti para pasangan usia produktifnya. Hal ikutan berikutnya yang jadi imbas akan minimnya niat berketurunan adalah semangkin demotivated nya generasi berikutnya untuk memasuki jenjang pernikahan dan ini jadi semangkin membuat gulung koming masyarakatnya. Bagaimana tidak, hawong sampai-sampai Pemimpin negara pun mengusulkan wacana 'kontak jodoh', biro jodo' atau semacamnya. Gimana caranya yang muda-muda itu mau nikah, mau
hidup bebrayan.

Weleh-weleh, lha kok hidup dibuat susah to yo, kok sajaknya hidup ini hanya dari yang kita usahakan saja. Apa ndak eling, kalo usaha itu cuma lantaran saja, kok nda' yakin kalau kita punya penjamin yang ngga' bakalan kena bangkrut seberapapun yang ditanggungnya, (kalau kita mau percaya).
Apakah anak-anak itu cukup dikasih makan, sama duit saja, terus diles pelajaran-pelajaran sekolah... ya kalau memang begitu, ya jadinya seperti ini ya generasi sekarang itu. Masak sih orang-orang yang katanya maju masih saja mau berpayah-payah gara-gara di drive sama materi.
Dasar ndunyane wis balik kiri grak!!!

Labels:

Thursday, August 28, 2008

Positioning

Sudah sangat mafhum dan sangat dikenali, bahwa ujung dari semua perasaan yang ada pada manusia adalah bagaimana mengkondisikan hati. Musibah, cobaan ataupun kebahagiaan berupa rizki, maka siratan perasaan manusia secara lanjut akan diolah oleh hati. Sejauh mana hati memberikan respon terhadap suatu fenomena, maka itu adala refleksi dari bagaimana orientasi hati pada waktu itu.
Tolok ukur inilah yang secara mudah bisa kita jadikan referensi untuk menilai dimana posisi hati kita saat itu.

Jika suatu saat terjadi musibah yang mengakibatkan hilangnya sejumlah materi, kemudian lha kok efek yang timbul adalah kegeloan tiada tara karena hilangnya si materi, lalu emosi jadi meluap, nyali jadi citu, merutuk tanpa alang kepalang, seribu tanda tanya, dari mulai kenapa musibah terjadi, kenapa harus saya, lalu secara cepat otak mengkalkulasi berapa kerugian yang diderita, entah berapa duit bakal melayang dll. Maka yakinlah posisi hati kita sedang dalam area duniawi secara condong dan menjauh dari area baqa'.

Dan ketika musibah terjadi, semisal yang mengakibatkan terenggutnya sisi-sisi kesehatan, kemudian hati ini teringat pada kisah Nabi Ayyub dan masih bisa bersabar serta bersyukur dari apa yang dia terima, maka kentara sekali posisi hati saat itu sedang dalam kondisi bagus.

Mendiagnosa kondisi hati, kemudian terlahirlah dari situ kondisi iman. Segera beranjak menuju posisi iman yang tinggi, bi'idznillah musibah bisa jadi berkah, hati jadi bungah, pikiran tak lagi resah dan gelisah. Dan ketika rizki didapatkan, insyaAlloh euforia akan cinta dunia tidak akan menggejala dan melenakan.

-sebuah kontemplasi dari konstipasi perasaan-

Labels:

Saturday, July 19, 2008

Beware !! Syubhat-ware and syahwat-ware

Semenjak terlink nya dunia ini dengan perangkat internet yang mampu melintasi dimensi waktu dan jarak, maka timbul juga hal-hal negatif yang muncul, beberapa diantaranya adalah adanya Spyware, adware, dari sana kemudian saya coba menambahkan lagi perangkat-perangkat yang lain yaitu syubhatware dan syahwatware, istilah yang saya ada-adakan untuk melabeli segala sesuatu di dunia maya, yang secara sengaja atau tidak sengaja dituangkan yang berkonten hal-hal yang mengacu pada perusakan iman dari sisi syahwat dan syubhat.

Diantara dari mereka yang saya anggap sebagai syubhatware adalah web-web yang berisikan tentang pemahaman-pemahaman yang ke kiri dan ke kanan, ataupun bisa juga yang berusaha untuk mengajak lari ke kiri dan ke kanan, atau juga yang berusaha untuk membuat ragu atas jalan yang lurus.

Lalu filter apa yang sudah kita siapkan untuk melenyapkan anasir-anasir yang disusupkan melalui keduanya itu?
Segeralah instal ilmu yang haq, kemudian maintain dan upgrade selalu !!

Labels:

Tuesday, June 10, 2008

Lain rasanya

Semua tahu bahwasannya belajar pada tataran teori sangatlah berbeda dengan aplikasi di lapangan.Kita belajar biologi, belajar mengenai darah. Ini begini itu begitu, sel-sel darah, dan macamnya, disodorin gambar-gambar detail. Kita enak saja mendengar, bahkan sambil makan pun juga bisa dilalui tanpa ada sedikitpun rasa aneh, jijik ataupun yang lainnyaTapi begitu melihat langsung, bwehh.. seribu satu perasaaan bakalan menderu, ada yang bergidik, ada kadang ngga' bisa makan berhari ataupun yang lainnya.

Atau kasus lain, semisal diterangkan mengenai rambu-rambu, kalau ada lampu kuning itu jangan diterjang, sekiranya masih dibelakang garis perempatan atau pertigaan maka hentikan kendaraan, so kalau liat lampu hijau jangan lantas stel kenceng aja, laju-laju perahu laju. Kalau ada orang lain yang ngga' mau nurutin aturan jangan ikuti, itu namanya melanggar aturan.Tapi begitu sampai di jalanan, yah emang susyeh bener dah nerapinnya. Paling clingak clinguk dulu apa ada kamera pas poto yang paling mahal bayarnya, alias kamera pak polisi yang bisa kena denda SGD 100. Kalau ga' ada..wes..ewes.. sambil bilang sluman slumun slameettt.. mu'un maap ye pak. nanggung banget mau ngerem pas lampu kuning, ini kaki malah nginjek gas.

Selanjutnya latar belakang dari tulisan ini adalah pas kemarin lalu, sama anak-istri jalan-jalan dan kebetulan mampir maghrib dulu.Kebetulan banget disitu ada ta'lim, tentang firaaq. Di awal mantep banget sepertinya, dalil-dalil sudah disampaikan, kemudian membahas tentang firaaq, salah satunya yang berhaluan tentang mujasim, alis menyamakan Alloh dengan makhluq, atau men-jasadkan diri Alloh.Pak Ustadz nya nerangin, (dengan gaya bahasa yang telah disesuaikan dengan tulisan ini)"emang sih, ada beberapa ulama yang mengatakan, kalau Alloh itu punya tangan, punya mata, punya kaki, tapi kalau mereka berpendapat seperti itu sama ertinya mereka menyamakan ALloh dengan makhluq dong, kan manusia juga tangan, mata, kaki dll, n then kalau sama dengan manusia, berarti Alloh lemah dong, kan manusia itu cuma makhluq yang lemah..hayooo"
wadaw... merinding juga ni dengernya, padahal udah sedikit banyak belajar tentang asma' wa shifat kok ya tergelitik juga ni rasanya.Kalau ga' ati-ati n senantiasa berdoa untuk memohon petunjuk supaya beristiqamah, bisa-bisa kelibas juga ni.Hmm...padahal ya..di awal-awalnya udah jelas-jelas dibilang sama itu Bapak "laisa kamitslihi syai'un, wahuwas sami'ul bashir"...nah di pemaparan kok cuma mentok di awal ayat aja pak, pokoknya ga' boleh disamain dalam semuaaaaaaa hal.bukannya di belakangnya dibilang kalo Alloh melihat dan mendengar, kenapa ga' disamakan juga, bahwa manusia itu juga melihat dan mendenger, haiwan pun juga melihat dan mendengar. gimana tu?ambil ini, buang itu. aduuuh.

Eh iya OOT bentaran, ngomong-ngomong, ambil sebagian, buang sebagian, jadi inget sama komentar2 orang ttg laskar-laskar swasta yang bermerk Islam, ada yang bilang "kelian ini yang ngga' seneng sama laskar itu, mbok ya jangan menghujat mereka, kan mereka itu berniat baik, lha wong pemerintah aja ga' bisa apa-apa kok, kelian ini menghujat sodara sesama Islam tapi membiarkan yang berbuat maksiyat"
haiyaaa.. lha bukannya pemerintah itu juga notabene sodara seiman juga, siapa sih yang bilang Pak Bambang itu bukan muslim, tapi nyatanya beliau ini banyak dihujat. Bahkan bukannya nyang namanya pemerintah harus mendapat porsi penghormatan yang lebih layak. Nah itu yang sok nasihatin lalu berdalih sok toleransi sesama sodara juga bagian ambil enaknya saja buang ngga' enaknya.

So kembali ke awal wacana bahwa ini, cerita diatas hanya satu contoh kasus saja..seringkali kita cuma baca di buku, denger di majelis, kenapa sih harus belajar tentang ini-itu, terus belajar hal-hal yang menyimpang segala, mbok ya wis kita saling toleransi ajah.. kan sama-sama sodara juga.ya itu tadi akibatnya, kalo ngga' mau belajar.. bisa-bisa dilibas sama-sama pendapat yang syad begituan.mungkin waktu denger ttg penjabaran penyimpangan2 itu, rasanya, ah masak iya sih masih ada yg berpikiran seperti itu..eh lha kok ternyata masih ada juga.Makanye.. belajar yang banyak, trus diamalin, berdoa yang banyak semoga sentiasa ditunjukkan ke jalan yang bener.

Labels: